Saya Intip Dapur Teknologi TikTok, Tokopedia, Shopee, dan Media Indonesia — Hasilnya Mengejutkan
Dengan satu ekstensi Chrome gratis bernama Wappalyzer, siapa saja bisa melihat teknologi di balik website manapun. Saya cek TikTok, Tokopedia, Traveloka, Shopee, Netflix, Detik, Tribun, dan beberapa lainnya — dan ada temuan yang tidak saya sangka.
Ada satu ekstensi Chrome yang saya pakai setiap kali membuka website manapun.
Namanya Wappalyzer. Gratis. Satu klik. Dan langsung memperlihatkan teknologi apa yang digunakan website tersebut — framework, bahasa pemrograman, hosting, analytics, hingga CDN-nya.
Seperti X-ray untuk website.
Saya iseng-iseng mengecek beberapa website besar — dari platform global yang dipakai jutaan orang Indonesia setiap hari, unicorn lokal yang valuasinya miliaran dollar, hingga media online yang kita buka saat sarapan. Hasilnya? Ada yang menarik, ada yang mengejutkan, dan ada yang cukup menggelitik.
Apa itu Wappalyzer?
Wappalyzer adalah ekstensi browser yang mendeteksi teknologi yang digunakan oleh sebuah website secara otomatis. Cukup install di Chrome atau Firefox, buka website apapun, klik ikon Wappalyzer di toolbar — dan kamu langsung melihat "dapurnya".
Informasi yang bisa terdeteksi:
- JavaScript framework (React, Vue, Angular, Next.js, Nuxt, dll)
- CMS (WordPress, Webflow, dll)
- Bahasa pemrograman backend
- Analytics (Google Analytics, Mixpanel, dll)
- Hosting & CDN (Cloudflare, AWS, Vercel, dll)
- Dan banyak lagi
Ini bukan tools hacking — Wappalyzer hanya membaca informasi yang memang tersedia di sisi client (HTML, JS, meta tag). Sepenuhnya legal dan etis. Kamu bisa install gratis di Chrome Web Store.

Temuan dari Platform Global

TikTok — React
Platform video terbesar di dunia menggunakan React sebagai JavaScript framework utamanya. Tidak mengejutkan, tapi menarik untuk dikonfirmasi sendiri.
React dikembangkan oleh Meta (Facebook) dan sekarang dipakai oleh ribuan perusahaan teknologi terkemuka. Ketika platform dengan ratusan juta pengguna aktif memilih React, itu bukan tanpa alasan — performa, skalabilitas, dan ekosistem developer-nya sudah teruji di skala yang sangat besar.
Facebook — React
Tidak mengejutkan karena React memang diciptakan oleh tim Facebook untuk kebutuhan internal mereka sebelum akhirnya di-open source pada 2013.
Facebook adalah bukti hidup bahwa React bisa menangani aplikasi dengan miliaran pengguna, ribuan fitur, dan tim engineering yang tersebar di seluruh dunia — tanpa codebase-nya menjadi kacau.
X.com (Twitter) — React Native for Web
Ini yang paling menarik secara teknis. X.com menggunakan React Native for Web — pendekatan yang memungkinkan satu codebase digunakan untuk web maupun aplikasi mobile (iOS dan Android).
Artinya, ketika kamu buka X di browser dan ketika kamu buka aplikasi X di HP, sebagian besar kode yang berjalan adalah kode yang sama. Efisiensi engineering yang luar biasa.
Netflix — JavaScript Frameworks + Emotion
Netflix mendeteksi beberapa JavaScript framework sekaligus, plus Emotion — sebuah library CSS-in-JS yang memungkinkan styling ditulis langsung dalam JavaScript.
Ini menunjukkan arsitektur Netflix yang kompleks dan modular — berbeda bagian dari website mungkin menggunakan stack yang sedikit berbeda, tapi semuanya dalam ekosistem JavaScript modern.
Passes.com — React + Next.js
Passes.com adalah platform membership untuk kreator konten yang sedang naik daun. Mereka menggunakan React bersama Next.js.
Next.js adalah framework yang dibangun di atas React, dikembangkan oleh Vercel. Kombinasi ini adalah pilihan de facto untuk website modern yang membutuhkan performa tinggi, SEO yang baik, dan developer experience yang solid.
Temuan dari Unicorn Indonesia — Bagian yang Paling Menarik

Bagian ini yang menurut saya paling relevan untuk bisnis Indonesia.
Tokopedia — React
Salah satu e-commerce terbesar Indonesia, dengan jutaan produk dan puluhan juta pengguna aktif, membangun frontendnya dengan React.
Ini bukan kebetulan. Tokopedia perlu interface yang sangat interaktif — filter produk real-time, keranjang belanja yang update tanpa reload, halaman yang terasa seperti aplikasi mobile meski dibuka di browser. React adalah pilihan yang tepat untuk kebutuhan tersebut.
Traveloka — React + Next.js + Express
Ini temuan paling relevan untuk artikel ini. Traveloka — unicorn travel Indonesia yang sudah beroperasi di seluruh Asia Tenggara — menggunakan React, Next.js, sekaligus Express.js.
Artinya Traveloka memilih:
- React untuk building UI yang interaktif
- Next.js untuk server-side rendering (halaman lebih cepat dan SEO-friendly)
- Express.js sebagai backend API layer
Ini adalah arsitektur full-stack modern yang matang. Dan Next.js-nya adalah stack yang sama persis dengan yang kami gunakan di Koraa.
Shopee — React + Redux
Shopee — platform e-commerce yang sudah menjadi bagian sehari-hari belanja orang Indonesia — menggunakan React bersama Redux.
Redux adalah state management library yang sering dipakai bersama React untuk mengelola data yang kompleks — seperti status ribuan produk, cart, promo, dan session pengguna secara bersamaan.
Temuan dari Media Online Indonesia

Tempo.co — Vue + Nuxt
Tempo adalah satu dari sedikit media Indonesia yang sudah mengadopsi JavaScript framework modern: Vue.js dengan Nuxt.
Vue dan Nuxt adalah ekuivalen dari React dan Next.js — sama-sama modern, sama-sama solid. Nuxt memberikan kemampuan server-side rendering yang penting agar artikel bisa diindex Google dengan baik.
Detik.com — Core.js, Swiper.js
Ini yang mengejutkan.
Detik.com adalah salah satu website dengan traffic tertinggi di Indonesia. Tapi Wappalyzer hanya mendeteksi Core.js dan Swiper.js — tidak ada JavaScript framework modern sama sekali.
Core.js adalah polyfill (kode agar fitur JavaScript modern bisa berjalan di browser lama). Swiper.js adalah library untuk slider/carousel. Keduanya bukan framework — keduanya adalah library pendukung.
Detik kemungkinan masih berjalan di arsitektur lama — PHP monolitik dengan JavaScript yang tidak menggunakan framework modern. Ini menjelaskan kenapa Detik sering terasa berat, terutama dengan tumpukan iklan yang ada.
Tribunnews.com — jQuery, Web Vitals, Core.js
Tribun lebih eksplisit: jQuery terdeteksi jelas.
JQuery adalah library JavaScript era 2010-an. Dulu revolusioner, sekarang sudah jauh tertinggal dibanding React atau Vue dari sisi paradigma dan performa.
Menariknya, Tribun mendeteksi Web Vitals — artinya mereka sudah mulai memantau performa. Tapi memantau performa tidak sama dengan memperbaiki arsitekturnya.
Pola yang Muncul

Setelah melihat semua data ini, polanya cukup jelas:
| Website | Tech Stack | Kategori |
|---|---|---|
| TikTok | React | Platform Global |
| Facebook | React | Platform Global |
| X.com | React Native for Web | Platform Global |
| Netflix | JS Frameworks + Emotion | Platform Global |
| Tokopedia | React | Unicorn Indonesia |
| Traveloka | React + Next.js + Express | Unicorn Indonesia |
| Shopee | React + Redux | Unicorn Indonesia |
| Passes.com | React + Next.js | Platform Modern |
| Tempo.co | Vue + Nuxt | Media Modern |
| Detik.com | Core.js, Swiper.js | Media Lama |
| Tribunnews | jQuery, Core.js | Media Lama |
Semua platform dan bisnis yang tumbuh agresif → React atau ekuivalennya. Semua unicorn Indonesia → React, dan sebagian sudah ke Next.js. Media yang tidak berevolusi → jQuery atau tanpa framework modern.
Apa Artinya untuk Bisnis Kamu?
Kamu tidak perlu membangun platform sekelas Tokopedia atau Shopee. Tapi pola ini memberikan sinyal yang jelas tentang pilihan teknologi mana yang terbukti bekerja untuk bisnis yang serius tumbuh.
Ketika Traveloka — yang harus mengelola jutaan pencarian penerbangan, hotel, dan aktivitas setiap hari — memilih Next.js, itu bukan keputusan sembarangan. Ada alasan konkret:
- Halaman loading lebih cepat lewat server-side rendering
- Lebih mudah ditemukan di Google dengan SEO out-of-the-box
- Lebih mudah di-scale tanpa rebuild dari nol
- Fitur baru lebih cepat dikembangkan oleh tim
Untuk bisnis yang jauh lebih kecil dari Traveloka sekalipun, benefit ini tetap sangat relevan.
Tech Stack yang Kami Gunakan di Koraa
Di Koraa, kami membangun website menggunakan React dengan Next.js — stack yang sama dengan Traveloka dan Passes.com, ekosistem yang sama dengan Tokopedia, TikTok, dan Facebook.
Bukan untuk ikut-ikutan unicorn. Tapi karena setelah membangun website untuk berbagai jenis bisnis Indonesia, kami percaya ini adalah pilihan terbaik untuk website yang:
- Loading cepat, bahkan di koneksi 4G yang tidak stabil
- Mudah ditemukan di Google dari hari pertama
- Bisa berkembang bersama bisnis tanpa harus dibangun ulang
- Sepenuhnya milik klien — kode, hosting, domain — semua di tangan kamu
Dan semua itu ditulis dari kode, bukan di-install dari template.
Ingin website bisnis kamu dibangun dengan stack yang sama dengan Traveloka dan Tokopedia — untuk skala dan budget bisnis kamu? [Konsultasi gratis dengan tim Koraa](/kontak). Tidak ada komitmen, tidak ada hard sell.
